Note : All Image Credit and Content Copyright – Next Entertainment World

Seok Woo mendapatkan telfon dari ibunya. Seok Woo, “Ya, Bu?”. Ibu, “Kau sedang dalam perjalanan?”. Seok Woo, “Ya, kami dalam perjalanan.. Ibu di mana?”. Ibu, “Apa kau dan Soo-an baik saja?”.

Tiba-tiba di tengah pembicaraan, Ibu Seok Woo terdengar susah bernafas. Seok Woo terlihat khawatir dan menanyakan keadaan Ibunya. Ibu tidak menjawab pertanyaan Seok Woo. Ibu hanya meminta Seok Woo untuk menjaga Soo An, karena ia sangat menyayangi Soo An. setelah itu, Ibu Seok Woo tidak berbicara lagi.

Seok Woo memanggil-manggilnya tetapi tidak ada jawaban dari Ibunya. Seok Woo yang syok terdiam. Soo An memanggilnya berulang kali, bertanya keadaan neneknya. Tetapi Seok Woo tidak menjawab hanya menatap Soo An.

 

 Kereta tiba-tiba berhenti membuat semua orang panik. Seok Woo meminta Soo An untuk duduk. Di saat Soo An duduk dan melihat ke arah luar melalui jendela, tiba-tiba Soo An di kagetkan oleh seseorang yang meminta tolong.

Stasiun yang sepi menjadi ramai. Terlihat banyak orang menggedor kaca jendela kereta. Semua orang di dalam kereta ketakutan. Hanya bisa melihat mereka yang di luar digigit dan menggigit. Seok Woo memeluk Soo An dan membalikkan badannya agar Soo An tidak melihat kejadian yang ada di luar.

Suasana di kota hancur porak-poranda. Banyak mobil di jalan yang hancur dan ditinggalkan pemiliknya. Zombi-zombi berjalan menyusuri lorong gerbong. Terdengar berita dari sebuah TV yang memberitakan keadaan kota yang mengalami kerusuhan.

Semua penumpang kereta yang selamat mencoba menghubungi keluarganya. Penumpang lain tampak sedih dan ketakutan melihat berita-berita yang disiarkan yang mereka lihat melalui smartphonenya.

Pintu yang menghubungkan gerbong belakang di tutup dan diganjal banyak tas. Para penumpang selamat berbaris menuju gerbong di depannya. Seok Woo yang ikut dalam barisan mengecek ponselnya dan membaca sms kiriman dari analis Kim. Soo An, “Ponsel Ibu mati”. Seok Woo hanya diam dan meminta Soo An untuk duduk. Seok Woo, “Tenanglah, Ayah akan telepon dia”.
Karena barisan masih panjang. Dua wanita paruhbaya yang ada juga dalam barisan, ikut duduk di samping Soo An dan Ayahnya.
Wanita paruhbaya, “Jong-Gil, duduklah”. Adiknya, “Kau lebih tua, jadi kau yang duduk”. Tetapi wanita paruhbaya itu tetap memaksa adiknya untuk duduk.
Soo An melihat wanita paruhbaya itu berdiri. Soo An menariknya untuk duduk di kursinya. Merasa senang dengan Soo An. Wanita paruhbaya itu meraih tangan Soo An dan memberikannya permen.
Seok Woo menarik Soo An kedepan. Di tempat itu ia bertemu Sang Hwa dan istrinya. Seok Woo berenti dan berbicara kepada Soo An.
Seok Woo, “Soo-an, kau tak perlu lakukan itu”. Soo An, “Melakukan apa?”. Seok Woo, “Bersikap ramah. Di saat seperti ini, jagalah dirimu sendiri. Mengerti? Jawab Soo An”. Soo An terdiam.
Soo An, “nenek sering merasa sakit di lututnya…”. belum selesai Soo An berbicara, tiba-tiba terdengar pengumuman dari masinis. Masinis, “kareta akan berhenti di stasiun Daejeon, pihak militer dikerahkan di sana dan akan mengamankan kereta. Setelah sampai, semua penumpang diminta untuk keluar”.
Mendengar pengumuman itu, penumpang ribut. Dari kejauhan Yong Suk menerobos barisan menuju toilet sambil berbicara dengan seseorang via telpon.
Yong Suk, “Kota mana yang bisa dimasuki? Yeosu, Uljin, Busan. Bagaimana dengan Daejeon?”. Seok Woo yang mendengar pembicaraan Yong Suk, tiba-tiba meminta Soo An untuk tetap di tempatnya dan pergi ke belakang menelfon seseorang.
Sang Hwa yang berada di dekat Soo An memanggil Soo An. Sang Hwa, “Hei, Nak. Siapa dia? Ayahmu?”. Soo An, “Ya”. Sang Hwa, “Ayah sungguhan?”. Sung Kyung langsung memukul Sang Hwa karena bertanya seperti itu kepada Soo An.
Sang Hwa, “Apa pekerjaannya?”. Soo An, “Dia manajer investasi”. Sang Hwa, “Dia tukang peras uang. Lintah darat”. Sung Kyung, “Jangan katakan di depan anaknya”. Soo An, “tidak apa, karena semua orang berpikiran begitu”.
 
Melihat Soo An yang terdiam. Sung Kyung menawarkannya sebuah permen jelly. Sambil mengelus perutnya Sung Kyung mengatakan kepada Soo An kalau janinnya bernama Sleepy.
Soo An, “Nama bayinya Sleepy?”. Sung Kyung, “Ini seperti nama panggilan. Ayahnya terlalu malas memilihkan nama”. Sang Hwa, “ Coba Pegang perutnya”. Soo An pun penasaran dan menyentuhnya. Soo An akhirnya tersenyum karena merasakan pergerakan bayi Sung Kyung.
Seok Woo berjalan ke gerbong belakang dan menelfon seseorang. Tn. Min, “Tn. Seok, kau menelepon di waktu yang kurang tepat”. Seok Woo, “Tunggu! Aku mau bertanya”.
Seok Woo menayakan kepada orang itu tentang kebenaran militer yang akan dikerahkan di Daejeon. Kemudian Seok Woo terkejut karena mendapatkan kabar bahwa setelah sampai disana mereka semua yang selamat akan di karantina. Seok Woo meminta bantuan kepada orang itu untuk menolong dia dan putrinya.
Tn. Min, “Jangan pergi ke alun-alun. Pergilah ke bagian timur, ya? Akan kuberi tahu anak buahku”. Seok Woo, “Terima kasih banyak”. Ketika Soek Woo beranjak pergi, ia melihat pria gelandangan yang tadinya bersembunyi di toilet, duduk dan berbicara sendiri.
Semua penumpang berada di dekat jendela dan memerhatikan keadaan di luar. Kereta telah sampai di stasiun Daejeon tetapi keadaan stasiun benar-benar sepi. Pintu gerbong kereta terbuka. Penumpang yang selamat hanya berdiri di depan pintu sambil melihat sekitar. Yong Suk menerobos kerumunan dan mencoba keluar.
Yong Suk pun turun dan diikuti penumpang lainnya. Masinis dan staffnya pun turun. Masinis penasaran dengan yang terjadi di gerbong. Disaat ia melintasi gerbong yang penuh dengan zombi ia pun terkejut.
Zombi-zombi itu berkumpul di jendela karena melihat masinis dan staffnya berdiri di luar. Staff, “Inilah kekerasan yang kuceritakan”.
Yong Suk berlari menghampiri Masinis.
Yong Suk, “ Gerbong mesin muat berapa orang? Kita harus lepaskan dan pergi ke Busan”. Masinis, “ Melepaskan? Tidak bisa!”. Yong Suk, “Dimana Militernya? Masinis, “Entahlah. Aku hanya dapa laporan soal itu.
Yong Suk memaksa Masinis untuk secepatnya pergi dari Daejeon. Ia mengambil kartu namanya dari sakunya dan menunjukkannya kepada Masinis. Ternyata Yong Suk adalah kepala perusahaan Stallion Express.
Ia mengetahui bahwa semua rute ke Daejeon ditutup dan jemputan dialihkan karena kota akan di karantina. Mengetahui hal itu Masinis terkejut. Ia segera berlari untuk menjemput penumpang yang lain.
Para penumpang selamat sudah memasuki area dalam stasiun. Mereka menuju tempat penjemputan. Semua tempat sudah di pasangkan police line dan penghalang yang bertuliskan AREA TERLARANG. Seok Woo membawa Soo An ke tempat yang di katakan oleh Tn. Min.
Sang Hwa dan Sung Kyung melihatnya, tetapi Sang Hwa membiarkannya.
Soo An, “Kita mau ke mana?”. Seok Woo, “Kita pergi lewat sini”. Soo An, “Hanya kita?”.
Tiba-tiba di belakang mereka muncul pria gelandangan yang tadi ada di kereta. Ia ingin mengikuti Seok Woo dan Soo An. tetapi Seok Woo menolak.
Pria gelandangan, “Aku dengar kau menelpon. Kalian berdua akan dijemput. Aku tahu yang lain akan dikarantina”.
Mendengar perkataan pria gelandangan itu Soo An bergerak pergi, ia ingin memberitahu yang lain tentang kabar itu tetapi di tahan Seok Woo karena menurutnya itu tidak perlu. Soo An, “Ayah hanya mementingkan diri sendiri. Itu sebabnya Ibu pergi”. Seok Woo, “Soo-an”.
Tiba-tiba pria gelandangan itu melihat seorang tentara kemudian berlari menghampirinya. Tetapi ada yang terlihat aneh karena tentara itu berjalan sempoyongan penuh luka. Gelandangan itu terus memanggilnya. 
 
Tentara itu meminta tolong dengan suaranya yang lirih. Seok Woo yang melihat meminta Soo An untuk diam di tempatnya dan Seok Woo berlari mengikuti pria gelandangan tadi.
Di lain tempat, Sang Hwa, Sung Kyung dan beberapa penumpang selamat lainnya berada di sebuah eskalator yang turun menuju tempat penjemputan. Sang Hwa melihat keganjilan di area itu. tepat di bawah sana terlihat banyak orang yang berkerumun dan ternyata itu adalah para tentara yang telah menjadi zombi.
Salah satu zombi melihat mereka dan akhirnya penumpang selamat yang telah tiba di bawah tidak bisa menyelamatkan diri dan tergigit oleh kumpulan zombi itu. Semua penumpang selamat panik melarikan diri. Sang Hwa mengangkat istrinya ke tangga yang ada di sebelahnya untuk kembali ke atas lagi dan Sang Hwa mengikutinya dari belakang.
Seok Woo dan gelandangan tadi menghampiri tentara itu. Tidak jauh dari tentara itu, ponsel Seok Woo berdering.
Tn. Min,” Tn. Seok, Anak buahku tak bisa dihubungi!”. Seo Woo, “ Apa?”. Seok Woo terkejut dan melihat ke arah tentara itu. Tentara, “Tolong aku”.
Tiba-tiba di belakang tentara tersebut datang satu zombi dan menggigitnya. Gerombolan zombi pun datang kemudian ikut menggigitnya. Gelandangan itu terkejut dan jatuh. Seok Woo berbalik dan berlari, ia meneriaki Soo An untuk lari.
Di belakang Soo An, semua penumpang selamat di kejar-kejar oleh zombi. Satu zombi mendekati Soo An, untung dengan cepat Sang Hwa menyikut zombi itu hingga terjatuh.
Soo An berteriak ketakutan. Sang Hwa masih berkelahi dengan satu zombi. Sung Kyung dengan cepat mengambil Soo An dan berlari membawanya.
Di dalam benar-benar rusuh. Semuanya saling gigit menggigit. Seok Woo berlari masuk mengikuti Soo An, tetapi dia di serang oleh satu zombi. Ia berusaha agar tidak tergigit. Seok Woo meraih sebuah buku dan menaruhnya di mulut zombi itu.
Young Guk dan teman setimnya membuka jalan untuk menyelamatkan para penumpang yang selamat menuju kereta. Sang Hwa berhasil lari dan membantu Young Guk bersiap menutup pintu keluar menuju kereta.
Seok Woo masih bertahan, tiba-tiba gelandangan itu datang menutup kepala zombi yang menyerang Seok Woo menggunakan jaketnya. Zombi itu tidak bisa melihat. Seok Woo berlari menuju pintu keluar dan dibelakangnya gerombolan zombi datang.
Seok Woo berhasil keluar. Sang Hwa, Young Guk dan rekan setimnya menutup pintu keluar tersebut. Sang Hwa mencoba meraih kunci pintu yang berada di atasnya.
Beberapa penumpang selamat sampai di kereta, tetapi mereka membuka pintu gerbong yang berisikan zombi-zombi. Penumpang selamat itu pun digigit. Dari atas Sung Kyung melihat kejadian itu, ia menuruni tangga bersama Soo An dan penumpang lainnya.
Jin Hee, Staff kereta, Masinis dan beberapa penumpang selamat berhasil sampai di kereta. Jin Hee dan staff kereta membantu para penumpang lain untuk menunjukkan arah gerbong yang akan dinaiki. Yong Suk memaksa staff kereta untuk cepat menutup pintu, tetapi di tolak karena masih banyak penumpang yang belum naik.
Sung Kyung dan Soo An masih berlari. Tiba-tiba dari atas zombi-zombi memecahkan kaca jendela dan terjatuh ke atas kereta. Dua wanita paruhbaya tadi terjatuh karena tertimpa satu zombi yang jatuh dari atas.
Sung Kyung dan Soo An segera menolong satu wanita paruhbaya itu dan membawanya ke arah yang berlawanan karena mereka dikejar satu zombi itu.
Jin Hee dan staff kereta juga segera menolong adik dari wanita paruhbaya tadi membawanya masuk ke gerbong, untung dengan cepat staff kereta menutup pintu gerbong sehingga tidak ada satupun zombi yang berhasil masuk.
Di lain arah, Sung Kyung, Soo An dan Wanita paruhbaya tadi berlari. Tetapi, di arah depan mereka terdapat beberapa zombi yang mendatangi mereka. Sung Kyung dengan cepat mencari pintu gerbong yang bisa di buka kemudian membawa Soo An dan wanita paruhbaya itu masuk.
Ketika Sung Kyung menutup pintu, tiba-tiba tangan seseorang menahannya membuat mereka bertiga terkejut. Ternyata itu adalah tangan pria gelandangan yang meminta untuk dibiarkan masuk. Mereka berempat berhasil masuk.
Di gerbong lain, Yong Suk memaksa staff kereta untuk cepat berangkat. Jin Hee memohon untuk jangan berangkat dulu, karena teman-temannya masih berada di luar. Tetapi atas desakan yang terus menerus, staff menghubungi Masinis untuk berangkat via talkie walkie.
Sang Hwa, Seok Woo, Young Guk dan dua rekan setimnya masih bertahan menghalangi zombi di pintu keluar. Mereka berhasil menutupnya tetapi pintu kaca itu tidak bisa bertahan lama, pintu kaca mulai retak. Melihat itu mereka berlari sekuat tenaga.
Di pelariannya Seok Woo melihat kereta mulai berjalan. Mereka kalah banyak, zombi-zombi itu begitu agresif sampai memecahkan pintu keluar tersebut.
Young Guk dan dua rekannya sudah di depan menuruni tangga menuju kereta. Ketika salah satu rekannya sampai dibawah dari arah samping ia diserang oleh zombi, begitu juga dengan rekan yang satunnya pahanya tergigit.
Young Guk terjatuh karena terkejut melihat rekannya digigit zombi. Seok Woo segera menariknya dan berlari bersama. Dalam hitungan detik dua rekan Yong Guk menjadi zombi.
Seok Woo dan Yong Guk berhasil menggapai pintu gerbong yang terbuka dan masuk ke dalamnya. Tanpa mengetahui di belakangnya ada beberapa zombi, Seok Woo berdiri di depan pintu untuk menolong Sang Hwa yang masih berlari.
Sang Hwa yang melihat berlari ke lain arah mengambil perisai dan pemukul yang berada di lantai. Sang Hwa meneriaki Seok Woo untuk minggir kemudian memukul zombi-zombi itu. Seok Woo mengulurkan tangannya untuk meraih Sang Hwa dan akhirnya Sang Hwa berhasil masuk ke dalam gerbong.
Masinis berusaha menghubungi Pusat kendali, untuk meminta dicarikan stasiun yang aman untuk berhenti, tetapi komunikasi yang tak stabil menyulitkan pusat kendali untuk mencarikan stasiun.
Masinis, “Pusat kendali, kereta 101 bisa menuju Busan? Ganti”. Pusat kendali, “Kereta 101, kami akan kosongkan jalur ke Busan”.
Sung Kyung menatap keluar melalui kaca pintu gerbong. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ketika ia ingin menjawab, gelandangan itu menahannya dan melihat ke arah lain. Ternyata gerbong itu berisi beberapa zombi.
Sung Kyung melihat ke belakang, di belakang juga terdapat beberapa zombi. Sung Kyung melihat salah satu pintu toilet terbuka. Ia dan lainnya, satu per satu jalan pelan-pelan menuju toilet itu.
Tanpa Sung Kyung sadari di belakangnya ada satu zombi. Hampir ia tergigit. Untung dengan cepat ia masuk dan di bantu pria gelandangan tadi untuk menutup pintu. Tetapi pintu belum tertutup rapat, zombi itu menahannya. Karena zombi itu teriak membuat zombi lainnya datang menuju toilet itu.
Di gerbong tempat Jin Hee dan lainnya yang selamat, terlihat menutupi kaca pintu gerbong dengan menyemprotkan chemical powder dari APAR.
Di saat itu juga, masinis memberikan pengumuman lagi jika mereka akan langsung menuju Busan dan tidak akan berhenti. Yong Suk tiba-tiba merampas talkie walkie staff kereta.
Yong Suk,”Masinis, kau dengar aku? Kau bisa menghubungi Busan?”. Masinis, “Tidak, komunikasinya buruk”. Yong Suk, “Jalankan kecepatan penuh! Atau kita takkan berhasil, paham?”.
Di saat semuanya terdiam karena menunggu kabar dari Yong Suk yang sedang berbicara kepada Masinis. Tiba-tiba ponsel Jin Hee berdering. Jin Hee, “Young-guk, di mana kau? Kupikir kau sudah mati!”. Young Guk, “Maafkan aku! Yang lain tak selamat!”.
Seok Woo terlihat mencoba menghubungi Soo An, begitu juga dengan Sang Hwa menghubungi istrinya. Seok Woo mencoba terus, tetapi Soo An tidak menjawab. Sang Hwa yang duduk seketika itu berdiri karena telfonnya masuk.
Sang Hwa, ”Yeobo?”. Soo An, “Pamaaan”. Sang Hwa, “Kenapa kau yang jawab? Di mana kau?”. Soo An,”Kami di toilet kereta!”. Sang Hwa, “Toilet? Gerbong berapa?”.
Soo An tidak bisa menjawab, dari belakang Sung Kyung terdengar berteriak. Sung Kyung, “Gerbong 13, Cepat kemari! Yeobo!”.
Seok Woo, “Itu tadi anakku? Dia tak apa?”. Sang Hwa, “Mereka di toilet gerbong 13”. Seok Woo dan Sang Hwa terdiam melihat gerbong di depan masih dipenuhi zombi-zombi.
Seok Woo menatap gerbong di depannya lama. Sepertinya ia berniat untuk menjemput Soo An, tetapi di tahan oleh Sang Hwa. Sang Hwa, “Kau mau kesana? Anggaplah kau bisa ke sana dan menyelamatkan mereka…lalu bagaimana kau bisa kembali?”
Young Guk di belakang terlihat sibuk mengambil sebuah tas. Ia membuka tas itu dan mengambil beberapa solasi dan lembaran berbahan kulit kemudian menggulungnya di tanganya.
Young Guk, “Di gerbong 15… orang-orang yang selamat berkumpul di sana”.
Sang Hwa melihat ke arah atas pintu gerbong, tertulis bahwa mereka berada di gerbong 9. Sang Hwa membuka Jasnya sepertinya ia juga menyiapkan dirinya untuk menerobos ke gerbong belakang menjemput istrinya. Seok Woo pun membuka Jasnya dan menggulungkan di lengannya.
Sang Hwa, “Hanya 4 gerbong jauhnya. Aku yang memimpin”. Sang Hwa menunjuk Seok Woo untuk berada di tengah dan Young Guk untuk berjaga di bagian belakang. Mereka bertiga bersiap. Sang Hwa, “Tunggu sampai kita keluar terowongan”. Kereta dalam keadaan gelap karena masuk terowongan.
Mereka bertiga berdiri di depan pintu gerbong. Kereta sudah keluar dari terowongan. Salah satu zombi melihat Sang Hwa dan mendatanginya. Sang Hwa langsung menendangnya. Seok Woo dan Young Guk pun membantu Sang Hwa dari belakang.
Sang Hwa di keroyok oleh beberapa zombi. Seok Woo yang melihat membantunya. Seok Woo dengan keras memukul kaki para zombi itu. Seok Woo menghantamkan pemukul sehingga zombi-zombi itu jatuh.
Sang Hwa dengan kekuatannya mengangkat satu zombi dan melemparkannya ke langit-langit gerbong. Seok Woo berhasil membuka pintu gerbong 10. Akhirnya mereka bertiga masuk ke gerbong 10.
Yong Guk berjalan di depan. Ia membuka pintu gerbong 11. Ketika ia mau mengayunkan pemukulnya, ia tiba-tiba terdiam. Ternyata gerbong 11 berisi zombi-zombi dari rekan tim baseballnya. Melihat keadaannya Young Guk. Sang Hwa meminta Young Guk untuk minggir, kemudian Sang Hwa mulai memukul zombi-zombi itu.
Seok Woo di serang satu zombi sampai ia jatuh ke tempat duduk. Young Guk terlihat ragu untuk melawan. Ia hanya terdiam dan meneteskan air mata. Ketika ia membulatkan tekadnya untuk melawan. Kereta memasuki terowongan membuat dalam gerbong tampak gelap. Tetapi ada keanehan yang terjadi. Zombi-zombi itu terdiam dan mencari-cari mereka bertiga.
Tampaknya zombi-zombi itu tidak bisa melihat mereka bertiga dalam kegelapan. Sang Hwa, Seok Woo dan Young Guk tampak bingung karena keanehan itu. Tiba-tiba bola yang ada di kabin atas jatuh menarik perhatian zombi-zombi itu. Seok Woo yang membaca situasi.
Menggunakan tongkat pemukul yang ia pegang, memukul suatu besi yang berada di ujung sana. Seketika itu juga zombi-zombi itu mendatangi pusat suara besi yang dipukul Seok Woo. Mereka bertiga menggunakan kesempatan itu untuk lari. Sang Hwa berhasil masuk ke gerbong 12.
Belum sempat Seok Woo dan Young Guk masuk, kereta keluar dari terowongan. Membuat Seok Woo dan Young Guk terlihat oleh zombi. tetapi untungnya mereka bisa masuk dan Sang Hwa menutup pintunya dengan cepat.
Mereka bertiga duduk dan membicarakan rencana untuk menerobos gerbong 12. Sang Hwa, “Mereka diam saat kita masuk terowongan, ‘kan?”. Young Guk,”Mungkin karena gelap”. Seok Woo, “Ya, kurasa begitu”. Sang Hwa, “Ada lebih banyak lagi di sini”.
Young Guk, “Kita harus bagaimana?”. Sang Hwa, “Tak ada cara lain lagi. Ayo”. Ketika Sang Hwa berdiri, Seok Woo menahannya dan meminta Sang Hwa untuk meminjamkan ponselnya. Sepertinya Seok Woo mempunyai rencana untuk itu.
Kereta masuk ke dalam terowongan lagi. Mereka bertiga pelan-pelan memasuki gerbong 12. Seok Woo, Young Guk dan Sang Hwa masing-masing bersembunyi di tempat duduk penumpang. Seok Woo melemparkan ponsel Sang Hwa ke arah gerbong 11.
Seok Woo berencana menarik perhatian zombi dengan suara dari nada dering ponselnya Sang Hwa. Seok Woo mencoba menelfon ponsel Sang Hwa dan berhasil. Semua zombi-zombi itu berlari mendatangi tempat ponsel yang di lemparkan tadi.
Setelah para zombi itu berkumpul di gerbong 12, mereka bertiga jalan pelan-pelan menuju gerbong 13. Tepat di depan pintu toilet, Sang Hwa mencoba mengetuk pintu. Di dalam toilet, Sung Kyu, Soo An, Nenek dan pria gelandangan terlihat sangat ketakutan. Sang Hwa pelan-pelang membuka pintu toilet.
Sangking terharunya Sung Kyu memukul Sang Hwa sambil menahan tangis. Sang Hwa mengelus kepala Sung Kyu untuk menenangkannya. Soo An terlihat mencari-cari ayahnya. Seok Woo datang tepat dibelakang Sang Hwa dan tersenyum.
Young Guk yang berada di belakang berjaga-jaga. Ia mengecek toilet yang berada di depannya. Ketika ia sibuk melihat-lihat, tiba-tiba kereta keluar dari terowongan dan kereta berubah terang.
Dengan cepat Young Guk masuk sambil menarik Seok Woo dan Sang Hwa. Beruntung mereka cepat masuk karena salah satu zombi merasa kehadiran mereka dan berbalik melihat ke arah toilet.
(Di Dalam Toilet)
Sang Hwa, “ Hei, Kawan. Merasa senang bertemu anakmu berkat diriku? Kau senang atau tidak?”. Seok Woo, “Kenapa nada deringmu jelek?”. Sang Hwa,”Memangnya kenapa? Bagaimana mengubahnya?”. Tiba-tiba Young Guk tertawa karena mendengar itu. Sang Hwa, “Ada yang lucu? Dasar anak tengik!”.
Seok Woo terlihat serius menatap ponselnya. Ia melihat rute perjalanan kereta yang mereka tumpangi.
Seok Woo, “Panjangnya 10km, kecepatan 300km/jam”. Sang Hwa, “Apa?”. Sambil menunjukkan ponselnya, Seok Woo “2 menit. Torowongan berikutnya memberi kita waktu 2 menit. Kita bisa melakukannya?”. Sang Hwa, “Kita usahakan”.
Mereka bertiga berencana menggunakan kesempatan 2 menit kereta memasuki terowongan untuk pergi dari gerbong itu menuju gerbong 15.
Di sela mereka membicarakan rencana itu tiba-tiba Sang Hwa berkata, Sang Hwa “Kuyakin kau tak pernah bermain dengan putrimu. Saat dia dewasa… dia akan mengerti kenapa kau bekerja keras. Semua Ayah akan dimarahi dan tak dihargai… tapi itu semua soal pengorbanan, ‘kan?”.
Seok Wo tidak menjawab hanya menatap lama ke Sang Hwa. Sang Hwa, “ Kenapa kamu menatapku? Apakah aku terlihat bijak?”. Mendengar Sang Hwa bercanda membuat Young Guk dan Seok Woo tersenyum.
(Gerbong 15)
Jin Hee dan yang lain duduk terdiam di tempat masing-masing. Tiba-tiba ponsel Jin Hee berdering ada sms masuk. Sms tersebut dari Young Guk yang mengabarkan jika dirinya dan yang lain selamat dan akan menuju gerbong 15.
Jin Hee begitu senang sampai ia menyampaikan isi sms itu. Sontak semua penumpang selamat di gerbong 15 itu terkejut dan berdiri dari tempat duduknya.
Young Suk, “Siapa yang datang?”. Jin Hee, “Temanku dari gerbong lain menuju kemari. Dia di gerbong 9, dan dia menolong beberapa orang”. Yong Suk, “Menolong? Dari sana ke sini, melewati monster itu? Tanpa terluka? Kau yakin mereka tak terinfeksi? Apa kau yakin?!”. Yong Suk marah-marah. Ia tidak ingin Young Guk dan yang lain datang ke gerbong 15.
Jin Hee meminta tolong kepada staff kereta untuk memperbolehkan Young Guk dan yang lain masuk ke gerbong 15, tetapi staff kereta dan penumpang yang lain terlihat sangat takut, ragu untuk memperbolehkan mereka.
(Toilet Gerbong 13)
Kereta memasuki terowongan lagi dan keadaan gerbong gelap gulita. Sang Hwa pelan-pelan membuka pintu toilet lalu keluar diikuti Seok Woo dan Youn Guk. Sang Hwa membuka pintu toilet tempat Sung Kyu, Soo An dan yang lainnya berada.
Sang Hwa memeluk istrinya, Seok Woo juga memeluk Soo An. Masalah belum selesai, pintu untuk menuju gerbong 14 di penuhi para zombi. Seok Woo dan Sang Hwa melihat sekitar, mencari cara untuk bisa melewati para zombi itu.
Seok Woo memberikan kode ke Sang Hwa bahwa mereka bisa lewat dengan menggunakan kabin penyimpanan barang yang berada di atas tempat duduk. Sang Hwa menangkap maksud Seok Woo. Semuanya terlihat menaiki kabin. Mereka pelan-pelan merayap melewati para zombi yang berada di bawah.
Tepat di depan Seok Woo terdapat sebuah tas. Ia mengambil tas itu dan berencana melemparkannya ke bagian belakang untuk mengelabuhi para zombi. Para zombi berlari menuju tas yang di lemparkan Seok Woo. Di saat itu juga, Seok Woo buru-buru turun dan mengambil Soo An dan yang lain. Sang Hwa menolong istrinya kemudian pelan-pelan ia membuka pintu gerbang menuju gerbong 14.
Satu persatu mereka masuk ke gerbong 14. Pria gelandangan itu tertinggal di belakang. Ia berusaha mencari pijakan untuk turun namun sayang ia terpeleset dan jatuh. Beruntung keadaan masih gelap sehingga zombi tidak bisa melihat mereka.
Seok Woo menolong pria gelandangan itu. ketika ia membantunya berdiri tiba-tiba kereta telah keluar dari terowongan dan gerbong kembali terang. Secepat mungkin Seok Woo mendorong gelandangan itu untuk sembunyi. Satu zombi merasakan keberadaan Seok Woo dan gelandangan itu.
Zombi itu berjalan menuju tempat mereka berdua sembunyi. Dari kejauhan Sang Hwa memanggil Seok Woo meminta Seok Wo cepat pergi dari situ. Seok Woo memberikan kode meggunakan jarinya kepada gelandangan itu. ia meminta dalam hitungan ketiga mereka berdua lari ke gerbong 14.
Ketika gelandangan itu berdiri, ia tidak sengaja menginjak kaleng minuman yang menarik perhatian para zombi itu. zombi-zombi itu bereaksi dan mendatangi mereka. Seok Woo dan gelandangan itu berlari. Mereka berdua berhasil masuk tetapi ketika Sang Hwa menutup pintunya satu zombi mengahalanginya.
(Gerbong 14)

Young Guk berlari ke depan dan meminta Jin Hee untuk membukakan mereka pintu. Seok Woo mencoba membantunya namun tidak bisa. Young Guk menghubungi Jin Hee tapi Jin Hee tidak mengangkatnya. Ternyata di balik pintu, di gerbong 15 para penumpang laki-laki mengikat pintu itu dengan kain-kain yang disatukan.
Jin Hee dibekap supaya ia tidak bisa menolong Yong Guk. Ponsel Jin Hee diinjak-injak Yong Suk.
Seok Woo berbalik dan melihat Sang Hwa sedang kesulitan. Ia berlari membantu Sang Hwa dengan memukul para zombi yang menahan pintu dengan tongkat pemukul.
Di lain sisi, Young Guk berusaha memecahkan pintu dengan tongkat pemukulnya. Seok Woo meneriaki Young Guk untuk cepat membuka pintunya. Ketika Sang Hwa memindahkan tangannya untuk memegang tepi pintu, tiba-tiba zombi yang tadi terjatuh kebawah berdiri dan menggigit telapak tangannya. Seok Woo yang melihat segera memukul zombi itu. Seok Woo melihat Sang Hwa dengan khawatir.
 
Young Guk masih berusaha memukul keras pintu yang menuju gerbong 15. Pintu mulai retak. Penumpang laki-laki yang tadinya menjaga pintu berlari ketakutan. Pintu pun pecah, Young Guk berlari keluar dari gerbong 14 menuju gerbong toilet tetapi ternyata masih ada satu pintu lagi yakni pintu depan gerbong 15.
Ketika itu juga Yong Suk berlari menutup pintu tersebut. Young Guk menjulurkan lengannya menghalangi Young Suk untuk menutup pintu itu. Semua penumpang laki-laki membantu Young Suk untuk menutup pintu.
Adik dari wanita paruhbaya yang bersama Soo An, melihat eonninya berada di belakang Young Guk. Ia pun tersadar dari lamunannya, ia berdiri mencoba memukul-mukul laki-laki yang membantu Yong Suk.
Jin Hee yang di bekap oleh staff kereta mencoba berontak dan menggigit tangan staff kereta tesebut dan ikut menolong.
 
Soo An menangis melihat keadaan dimana Ayahnya dan Sang Hwa masih berusaha menghalang para zombi sedangkan Young Guk juga masih berusah membuka pintu untuk menyelamatkan semuanya. Ketika Yong Suk berusaha keras menutup pintu, ia tidak sengaja melihat Soo An yang berdiri sendiri sedang menangis.
Sung Kyung berdiri sambil berderai air mata. Ia melihat suaminya berusaha keras menutup pintu dan yang membuatnya paling sedih adalah Sang Hwa tergigit. Ia mencoba berjalan dengan menyeret kakinya.
Sang Hwa yang melihat teriak dan meminta Sung Kyung untuk tidak mendekat dan pergi. Sung Kyung menangis sejadi-jadinya.
Pintu yang ditahan Sang Hwa dan Seok Woo mulai retak. Sang Hwa,” Kawan, hei! Bawa dia dan pergilah. Aku mulai lelah, pergilah. Jaga dia, ya? Akan kutahan mereka, pergilah!”. Seok Woo terlihat begitu berat untuk meninggalkan Sang Hwa, tetapi atas desakan Sang Hwa mau tidak mau Seok Woo pergi. Seok Woo, “Maafkan aku”.
Seok Woo berlari pergi dan membawa Sung Kyung. Sung Kyung tidak mau bergerak. Seok Woo manariknya pergi. Sung Kyung pergi sambil mentap suaminya. Sang Hwa, “Yoon Su Yun. Itu nama bayi kita! Paham?”.
Sang Hwa tersenyum kepada Sung Kyung. Tiba-tiba pintu yang di tahan Sang Hwa pecah. Sung Kyung teriak kencang. Seok Woo mencoba membawanya menjauh dari situ.
Sang Hwa mencoba menahan para zombi itu melewatinya. Sang Hwa menggunakan satu zombi yang ia angkat untuk menghalangi zombi-zombi lain lewat. Seok Woo mendatangi Young Guk dan membantunya untuk membuka pintu.
Sang Hwa mulai berubah. Matanya putih, di wajahnya ada bercak urat-urat. Tetapi ia mencoba menyadarkan dirinya dan tetap menghalangi zombi-zombi itu. Karena kalah jumlah, Sang Hwa terjatuh dan zombi-zombi itu pun lolos menuju gerbong 15.
Seok Woo mengerahkan semua kekuatannya. Yong Suk terlihat mulai lelah dan jatuh, akhirnya pintu berhasil terbuka. Seok Woo, Young Guk dan pria gelandangan itu terlempar masuk. Denga cepat Seok Woo berbalik menarik Soo An dan Sung Kyung.
Ketika Seok Woo mau mengambil wanita paruhbaya itu, di belakangnya para zombi sudah dekat. Wanita paruhbaya tersenyum kepada adiknya kemudian jatuh diserang zombi. Adik dari wanita paruhbaya itu berteriak, “Eoonnniiiiii”. Seok Woo dengan cepat menutup pintunya.
Seok Woo marah dan memukul Yong Suk. Seok Woo, “Kenapa kau melakukannya? Dasar bajingan! Kita bisa saja selamatkan mereka! Kenapa?”. Yong Suk melihat semua orang melihatnya. Ia berusaha mencari perhatian dengan mengatakan Seok Woo terinfeksi.
Ia berusaha menyalahkan Seok Woo. Yong Suk, “Orang ini terinfeksi! Matanya! Lihat matanya! Dia akan jadi seperti mereka! Apa kalian semua ingin mati? Kita harus usir mereka!”.
Semua orang termakan katak-kata Yong Suk. Mereka ketakutan dan meminta Seok Woo dan yang baru masuk segera pindah ke gerbong lain.
Sinopsis Train To Busan Part 3
Baca Juga :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here